Cerpen

Kurelakan Bahagiaku Demi Sahabat

 

Siang itu matahari memancarkan sinarnya yang begitu menyilaukan,seakan-akan ingin mengejekku yang sedang duduk sendiri di depan gerbang sekolah. Lalat-lalat yang sedang dersendau gurau dengan teman-temannya di bak sampah seberang jalan membuat aku semakin risih. Suara nyanyi-nyanyian kendaraan bermotor yang berlalu lalang di depanku membuat telingaku semakin bising mendengarnya. Terik matahari yang begitu panas,membuat keringat membasahi keningku. Sesekali kuusap keringat dengan sapu tangan merah jambuku,dan juga berulang kali aku menengok arloji yang terikat di pergelangan tangan kananku. Yah,akhirnya Pak Man sopirku yang ku tunggu-tunggu menjemputku juga.

“Gimana sih,Pak Man lama banget jemputnya?” tanyaku.

“Maaf, tadi Pak Man ketiduran. Soalnya tadi malem ronda,”jelas Pak Man.

“Lain kali jangan gitu lagi ya,Pak? Aku kan jadi lama nunggunya,mana sendiri lagi,”omelku.

“Iya,Pak Man janji gak akan telat lagi jemputnya,”jawab Pak Man.

Sesampainya di rumah,aku langsung berlari menuju meja makan. Sejak tadi menunggu di sekolah perutku sudah member sinyal,dengan berbagai suara. Tapi saat aku mau mengambil nasi,tiba-tiba.

“Arleta sayang,berapa kali Mama harus bilang? Pulang sekolah itu ganti baju, cuci tangan, cuci kaki, baru makan,”nasihat Mama.

“Tapi,Leta udah laper Ma. Ini perutnya udah minta makan,kasian dong,”rayuku.

“Gak boleh,buruan ganti baju dulu, dan cuci dulu tu tangan sama kaki!”perintah Mama. Huh,mau gak mau harus turutin dulu tu kata-kata si Mama kalau gak bisa-bisa ni cacing-cacing diperut tambah menjadi-jadi teriakannya.

Setelah selesai makan seperti biasa, aku masuk kamar dan menyalakan laptop untuk online. Ketika aku buka facebook, aku sangat girang karena orang yang aku taksir sedang online juga. Tapi sayang, sapaanku lewat chat tak digubris sedikitpun olehnya. Cowok yang aku taksir itu, namanya Ray. Memang mustahil buat deketin dan dapetin dia, selain kakak kelas, dia juga cowok yang banyak disukai oleh cewek-cewek disekolahku.

Keesokan harinya di SMA Madesu (Masa Depan Suram) tempatku bersekolah, seperti biasa aku sering datang pagi karena aku nggak mau duduk depan.  Teman sebangku ku juga selalu itu-itu saja kalau tidak Carla pasti Trisya. Tapi aku sekarang sedang duduk dengan Carla, saat palajaran matematika berlansung aku malah asyik cerita sendiri dengan Carla. Ya, jelas aku menceritakan tentang Ray yang kemarin sore sama sekali nggak nenggepin sapaanku.

“Heh, tau gak sih masak sapaanku kemarin dicuekin aja sama  Ray,”ceritaku kepada Carla.

“Hahaha, kamu sih sok kenal. Udah tau dia kakak kelas kita,”jawab Carla.

“Kita, loe aja kali gue engga. Aku kan calon pacar dia,”sahutku PD.

“Dasar, khayal mulu!”jawab singkat Carla.

“Kalian tuh diem,gosip aja lho. Dengerin tuh Bu Marta nerangin apa!”perintah Trisya yang tiba-tiba memotong pembicaraan ku dengan Carla.

Pulang sekolah lagi-lagi aku menunggu Pak Man. Tapi sekarang aku gak nunggu sendirian, karena ada Trisya yang mau tidur di rumahku, soalnya Trisya ditinggal pergi ke luar kota oleh kedua orang tuanya untuk mengurus bisnis keluarganya. Tak lama kemudian Pak Man sampai di sekolahku.

“Maaf non, lagi-lagi Pak Man terlambat jemputnya,”kata Pak Man.

“Huh,iya-iya. Emang kenapa lagi Pak?”tanyaku.

“Ini, tadi tiba-tiba bannya kempes. Jadi Pak Man harus memompanya dulu,”jelas Pak Man.

“Udah dong Let, lagian kan tadi kamu gak sendirian tapi ada aku,”tiba-tiba Trisya angkat bicara.

“Iya-iya aku kalah. Untung aja ada kamu Tris, kalo enggak pasti Pak Man udah aku omelin,”jawabku.

“Ya udah dong makanya,”nasihat Trisya.

Malampun tiba, saat aku dan Trisya menggosip masalah tentang cowok tiba-tiba hp Trisya berbunyi. Sebelum mengangkatnya Trisya bilang padaku kalau dia ingin ke kamar mandi. Trisya terlihat tergesa-gesa memasuki kamar mandi, rupanya dia mau mengangkat telepon tadi. Lima belas menit berlalu, Trisya pun keluar dari kamar mandi.

“Telepon dari siapa sih,Tris? Kok kelihatannya penting dan rahaia sekali, sampai sembunyi-sembunyi gitu, kenapa?”tanyaku.

“Eh, nggak apa-apa kok Let,”jawab Trisya gagap.

“Lah, main rahasia-rahasiaan ni ya,”sindirku.

“Mmm, gimana ya? Oh iya ya,tadi Umi ku. Dia Tanya minta oleh-oleh apa gitu,”jelas Trisya.

“Oh,jadi gitu ya,”jawabku yang masih belum begitu percaya dengan jawaban Trisya.

“Kamu sendiri lagi baca novel apa?”tanya Trisya yang mencoba mengalihkan pembicaraan.

“Mau tau ajah hehe,”jawabku singkat.

“Yah, gitu kamu ya jawabnya,”sahut Trisya kesal.

Aku dan Trisya pun cerita masalah mengenai cowok hingga larut malam. Tapi ekspresi Trisya menjadi aneh ketika aku member tahu kalau aku bener-bener suka sama Ray. Dan baru sebentar aku menceritakan tentang Ray, Trisya malah mengajakku untuk tidur. Karena hari memang sudah malam jadi aku turuti kemaun Trisya untuk tidur.

Pagi hari pun tiba, saatnya aku berangkat sekolah bersama Trisya. Bel istirahat kedua tiba, aku dan kedua sahabatku pergi ke kantin untuk membeli lolypop. Ketika akan menuju kantin tak sengaja Trisya ditubruk oleh seorang cowok bertubuh tinggi, dan putih. Saat cowok itu membalikan badannya untuk hendak meminta maaf, aku terkejut ternyata yang menubruk Trisya, Ray kakak kelas yang aku taksir.

“Maaf, Tris aku gak sengaja. Mana yang luka biar aku obatain,”kata Ray meminta maaf.

“Enggak kok kak,gak apa-apa,”jawab Trisya malu-malu.

“Itu tangan kamu berdarah,ayo ikut aku ke UKS biar aku kasih obat merah,”bujuk Ray.

Sontak aku terkejut saat mendengar Ray menyebut nama Trisya, itu tandanya Trisya sudah mengenal Ray tapi kenapa dia tidak pernah cerita. Aku juga hanya bisa bengong saat melihat Trisya mau diobati oleh Ray. Lalu aku hubungkan peristiwa ini dengan kejadian tadi malam. Setelah Trisya dan Ray meninggalkan aku dan Carla untuk pergi ke UKS. Aku pun mengajak Carla untuk kembali ke kelas dan tidak jadi ke kantin. Carla terlihat bingung dengan kejadian tadi, dan terus mencoba bertanya kepadaku namun tak kujawab.

Hari berikutnya di sekolah, kali ini aku tidak berangkat pagi karena aku bangun kesiangan. Saat perjalan menuju sekolah, aku melihat Trisya berboncengan dengan seorang cowok yang berpostur tubuh seperti Ray. Saat sampai di sekolah ternyata Trisya sudah sampai dulu dengan seorang cowok tadi. Dan ketika seorang cowok tadi melepas helmnya, rasanya aku ingin segera bangun dari mimpi burukku, ya ternyata benar cowok itu Ray. Setelah sampai di kelas aku melihat sekeliling, aku mencari bangku yang masih kosong. Dan ternyata bangku sebelah Trisya lah yang belum ditempati.

“Duduk sebelah Trisya itu lho,Let. Masih kosong kok,”kata Carla.

“Enggak, aku gak mau duduk sebelahan sama orang yang pengkhianat sama sahabatnya sendiri!”sindiranku kuarahkan ke Trisya.

“Kamu ini kenapa Leta? Kok ngomongnya gitu?”tanya Trisya.

“Halah, gak usah sok baik deh sama aku! Apa ini yang namanya sahabat?”bentakku.

“Udah-udah kalian ini kenapa sih?”Carla kebingungan.

“Aku certain nanti,yang penting aku mau duduk sama kamu La,”kataku pada Carla.

Akhirnya pun aku duduk bersama Carla, dan Bella yang tadinya duduk dengan Carla akhirnya duduk dengan Trisya. Saat pulang sekolah tiba, Trisya menayakan padaku kenapa tadi aku bersikap seperti itu kepadanya. Aku pun bertanya berbagai macam pada Trisya, dan dia pun menjelaskannya padaku. Hatiku semakin remuk saat mendengar pernyataan bahwa dia telah jadian dengan Ray. Rasa sakitku semakin menjadi-jadi saat melihat Ray menghampiri Trisya di kelas kami. Aku lansung pergi meninggalkan kelas dengan menahan tangis, dan Carla pun mengejarku. Trisya mencoba memanggilku dengan penuh rasa bersalah, namun tak ku hiraukan panggilan Trisya itu. Untung saja Pak Man sudah menjemputku sehingga aku bisa langsung pulang, tapi saat aku hendak membuka pintu mobil, Carla menarik tanganku. Carla mencoba menenangkanku rupanya dia sudah tau apa masalah aku dan Trisya. Namun aku tarik tanganku dan langsung masuk mobil untuk langsung pulang. Di sepanjang perjalanan Pak Man terus menerus memperhatikanku, karena aku tak henti-hentinya menangis.

Sesampainya di rumah aku langsung membanting tubuhku diatas ranjang, sambil menangis. Mama masuk kamarku dan mencoba menanyakan kenapa aku bisa menangis seperti itu. Aku menceritakan semuanya kepada Mama, dan tangisku semakin menjadi-jadi. Sebagai seorang mama yang baik Mama menasehatiku dengan penuh kasih sayang. Sambil membelai rambutku, Mama mengatakan bahwa seseorang tak bisa memaksakan kehendaknya untuk mendapatkan seseorang yang dicintainya, karena cinta memang tak bisa dipaksakan, tak bisa dibeli dan juga tak harus saling memiliki. Malam pun tiba banyak sms dari Trisya namun sama sekali tak ku tanggapi. Hingga tengah malam aku masih saja belum bisa memejamkan mata, aku masih memikirkan perasaanku, akan tetapi tak lama aku menjadi sadar bahwa aku salah jika aku marah pada Trisya. Karena itu memang hak Trisya untuk mencintai dan dicintai oleh Ray.

Pagi itu, aku terbangun dengan mata yang sembab dan membengkak. Semalam aku menangis di kamar sampai ketiduran. Entah berapa lama aku berderai air mata. Namun berkat berbagai nasihat yang tadi malam aku terima kini aku tetap menyambut pagi dengan ceria. Sesampainya di sekolah Trisya ternyata sudah sampai dulu di kelas. Trisya pun mendekati aku dan mencoba untuk meminta maaf padaku, tapi saat Trisya mau memulai pembicaraan Carla tiba-tiba menarik tanganku.

“Leta,apa-apaan sih kamu itu udah ditusuk dari belakang sama Trisya, tapi…”kata Carla yang belum selesai berbicara.

“La, ini semua gak seperti yang kalian kira. Aku emang salah gak dari awal cerita,”potong Trisya.

“Enak banget sekarang kamu minta maaf gini ke Arleta. Tau gak kamu udah buat dia sakit hati, kamu juga udah buat persahabatan kita jadi gini!”jawab Carla penuh emosi.

“Udah dong udah, kalian ini apa-apaan sih kok malah jadi kalian yang berantem?”akupun angkat bicara.

“Gak bisa gitu dong Let!”Carla menyambung.

“Carla, kita kan sahabat kita harus saling mengerti dong. Emang aku suka sama Ray, tapi Ray nggak suka sama aku melainkan dia suka sama Trisya. Jadi aku gak boleh egois, aku nggak boleh maksain perasaanku sendiri. Lagian aku mau sahabatku ini bisa bahagia sama orang yang baik kayak Ray,”terangku sambil tersenyum melihat Trisya dan Carla.

“Ya udah kalau gitu sekarang gak ada masalah-masalah lagi ya, kita baikan semua berjalan seperti biasa,”tambah Carla.

“Makasih Let, kamu bisa ngerti semuanya ini, sekali lagi maafin aku,”kata Trisya sambil memeluk aku dan Carla.

“Iya-iya,gak apa-apa kok,”jawabku dengan senyuman manis.

Akhirnya akupun bisa menerima semuanya ini walau terasa berat, namun yang aku lakukan ini semata-mata untuk kebahagiaan sahabat dan orang yang aku cintai.

 

 Oleh : Herwin Ayu Retno Mumpuni

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Erdina Astri Damayanti

One Of Directioners

hellowqiiky

Brevity is the soul of wit.

AJI'S BLOG

Menjelajahi Alam dan Sejarah

gumay23

defeat is a victory that delayed

nadiakristiani21

Sebab segala sesuatu telah di rancang sesuai dengan rencana-NYA dan bukan rencana kita

It's MAZAYA :)

i was encanted to meet you,

Chacaglory

I am not the best but I am try to do the best

Ratna Malisa

Always positive thinking make we enjoy our life

Pandalism

Ingridients : 70% waters, 30% talents | fatmaworld.blogspot.com

The WordPress.com Blog

The latest news on WordPress.com and the WordPress community.

%d blogger menyukai ini: